MARTAPURA,OKU TIMUR,Sumatera Selatan,Jelajahekspres.com – Suasana khusyuk menyelimuti Lapangan Stasiun KAI Pasar Martapura pada pagi itu.
Ribuan warga dari berbagai penjuru tampak duduk bersaf rapi di atas hamparan tikar dan terpal, menghadap kiblat di tengah lapangan terbuka yang disapu panas matahari.
Mereka hadir bukan untuk menaiki kereta, melainkan untuk memenuhi panggilan takbir di Hari Kemenangan.
Kepaduan Warga Tiga RT dan Pasar. Lapangan yang biasa menjadi area parkir dan lintasan penumpang kereta api itu berubah menjadi lautan manusia.
Warga dari RT 01, RT 02, dan RT 03 Kelurahan Paku Sengkunyit terlihat berdatangan sejak pukul 06.30 WIB.
Mereka tidak sendiri, masyarakat dari kawasan Pasar Martapura serta warga Bedeng PJKA RT 02 dan RT 03 juga berbondong-bondong memenuhi lokasi.
Takbir bergemuruh, menggema di antara bangunan stasiun dan deretan toko pasar yang masih terkunci rapat.
Satu Nama di Balik Panggung Ibadah.
Pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah itu dipimpin langsung oleh satu sosok yang merangkap dua tugas penting.
Bapak Syarif Alfi dipercaya untuk bertindak sebagai khatib sekaligus imam.
Suaranya yang lantang mengalun melalui pengeras suara sederhana, membawa ribuan jemaah larut dalam rangkaian khutbah yang singkat namun sarat makna tentang kebersamaan dan kesederhanaan.
Keterbatasan Fasilitas di Tengah Antusiasme.
Di balik kekhidmatan ibadah, terlihat pula berbagai keterbatasan yang dihadapi panitia pelaksana.
Lapangan yang luas tidak dibarengi dengan pengaturan tempat duduk yang memadai.
Banyak jemaah yang datang terlambat harus rela duduk di pinggiran aspal yang panas atau berdiri di bawah terik matahari tanpa pelindung.
Hal itu menjadi catatan tersendiri bagi para pengurus yang mempersiapkan acara tersebut.
Permohonan Maaf Pengurus Mushola.
Di sela-sela kesibukan pasca salat, Ketua Pelaksana dari Langgar Mushola Nurul Hidayah Kebun Jati angkat bicara.
Dengan penuh kerendahan hati, ia menyampaikan apresiasi sekaligus permohonan maaf kepada seluruh jemaah yang hadir.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Apabila banyak kekurangan, terutama dalam penempatan jemaah yang masih kurang rapi, kami selaku panitia memohon maaf,” ungkapnya.
Momen Silaturahmi Tanpa Batas.
Usai sholat, suasana haru dan bahagia menyelimuti seluruh kawasan stasiun.
Jabat tangan, pelukan, dan senyum merekah menjadi pemandangan umum di antara warga RT, warga pasar, hingga warga Bedeng PJKA yang sebelumnya mungkin hanya saling sapa sepintas.
Momen Idulfitri kali ini menjadi jembatan pemersatu yang menghapus sekat-sekat lingkungan tempat tinggal.
Stasiun Berubah Fungsi Menjadi Ruang Ibadah. Pemanfaatan Lapangan Stasiun KAI Pasar Martapura sebagai lokasi sholat Id dinilai sebagai solusi tepat mengingat minimnya lahan terbuka di kawasan padat penduduk tersebut.
Pihak kepolisian dan pengelola stasiun pun turut mengamankan jalur akses agar arus kedatangan jemaah tidak mengganggu aktivitas perkeretaapian yang sempat dihentikan sementara selama pelaksanaan ibadah berlangsung.
Harapan di Hari yang Fitri.
Di penghujung kegiatan, seluruh jemaah pulang dengan membawa pesan kebersamaan.
Ketua panitia kembali mengucapkan kalimat khas Hari Raya, “Minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin,” menandai berakhirnya rangkaian ibadah yang berlangsung lancar meski dengan segala keterbatasan.
Bagi warga Kelurahan Paku Sengkunyit dan Pasar Martapura, Idulfitri tahun ini akan dikenang sebagai momen di mana stasiun bukan hanya persimpangan jalan, tetapi juga persimpangan hati.(T.HDYT)












